Wednesday, July 04, 2012
Warta Bagus
Waktu catatan ini mulai ditulis, suara gamelan masih membahana di udara Ngadimulyo, sebuah desa yang hanya berjarak 7 km dari puncak merapi. Melalui celah di bawah pintu yang meski sudah ditutup itu, udara dingin masih dapat menyelinap menyapa kulit. Tuan rumah menyediakan tikar tempat sebagian dari kami sudah merebahkan diri. Kami baru saja menghabiskan malam bermain gamelan bersama warga. Di sini, di jarak yang begitu dekat dengan sumber letusan dahsyat, kami membaur bersama manusia-manusia merapi dan menyelami kearifan mereka menghadapi alam.